Wilayah sub-Sahara Afrika Barat pernah
menjadi saksi kejayaan peradaban Islam. Di wilayah yang dikenal dengan sebutan
Bilad al-Sudan itu sempat berdiri dinasti-dinasti Islam. Bahkan, di kawasan
Afrika Barat juga pernah berdiri perguruan tinggi berkelas dunia bernama
Universitas Sankore.
Prof A Rahman I Doi dalam tulisannya
bertajuk Spread Islam in West Africa, mengungkapkan, Islam mencapai wilayah
Savannah (Afrika Barat) pada abad ke-8 M. “Ajaran Islam mulai diterima oleh
Dinasti Dya’ogo dari Kerajaan Tekur pada awal 850 M,’’ ungkap guru besar pada
berbagai universitas di Afrika itu.
Fakta itu terungkap dari
catatan sejarawan dan penjelajah Muslim di era keemasan Islam, seperti
Al-Khwarzimi, Ibnu Munabbah, Al-Masudi, Al-Bakri, Abul Fida, Yaqut, Ibnu
Batutah, Ibnu Khaldun, Ibnu Fadlallah al-’Umari, Mahmud al-Kati, Ibnu al
Mukhtar, dan Abd al-Rahman al-Sa’di.
Margari Hill, sejarawan dari Stanford
University, menjelaskan, Islam menyebar di Afrika Barat secara bertahap dan
kompleks. Ada tiga tahap sejarah yang telah dilalui Islam di wilayah
sub-Sahara. Ketiga tahap sejarah itu adalah tahap penahanan, pembauran, dan
reformasi.
Pada tahap pertama, raja-raja Afrika menahan
atau membendung pengaruh Muslim dengan memisahkan komunitas Muslim. Pada tahap
kedua, penguasa Islam Afrika mencampur Islam dengan tradisi lokal. Pada tahap
ketiga, Muslim Afrika ditekan melakukan reformasi untuk menyingkirkan kebiasaan
mencampur tradisi lokal dan Syariah sehingga umat Islam menjalankan ajaran
Islam secara benar.
Dinasti Dya’ogo merupakan orang Negro
pertama yang menerima Islam di Afrika Barat. Karenanya, para sejarawan Muslim
menyebut wilayah Kerajaan Tekur dengan julukan Bilad al-Tekur atau “Tanah
Muslim Hitam”.
Ajaran Islam, menurut Prof
Rahman—mengutip catatan Ibnu Munabbah yang bertarikh 738 M dan Al-Masudi pada
947—masuk dan berkembang di wilayah Afrika Barat melalui jalur
perdagangan.Ketika Islam telah menyebar, di Kota Timbuktu, Mali, telah berdiri
sebuah perguruan tinggi berkelas dunia, Universitas Sankore. Pada abad ke-12 , jumlah mahasiswa yang menimba ilmu di Universitas
Sankore mencapai 25 ribu orang.
Universitas Sankore diakui sebagai perguruan
tinggi berkelas dunia. Karena, lulusannya mampu menghasilkan publikasi berupa
buku dan kitab yang berkualitas. Buktinya, baru-baru ini di Timbuktu, Mali,
ditemukan lebih dari satu juta risalah. Selain itu, di kawasan Afrika Barat
juga ditemukan tak kurang dari 20 juta manuskrip.
Sejarawan Abad XVI, Leo Africanus, menggambarkan
kejayaan Timbuktu dalam buku yang ditulisnya. “Begitu banyak hakim, doktor, dan
ulama di sini (Timbuktu). Semua menerima gaji yang sangat memuaskan dari Raja
Askia Muhammad—penguasa Negeri Songhay. Raja pun menaruh hormat pada rakyatnya
yang giat belajar,” tutur Africanus.
Di era keemasan Islam, ilmu pengetahuan dan
peradaban tumbuh sangat pesat di Timbuktu. Rakyat di wilayah itu begitu gemar
membaca buku. Menurut Africanus, permintaan buku di Timbuktu sangat tinggi.
Setiap orang berlomba membeli dan mengoleksi buku. Alhasil, perdagangan buku di
kota itu menjanjikan keuntungan yang lebih besar dibanding bisnis lainnya.
Dinasti Islam di afrika barat
● Kerajaan Ghana (830-1235 M)
● Dinasti Za di Gao (11 M –1275 M)
● Dinasti Sayfawa (1075-1846 M)
● Kekaisaran Mali (1230-1600 M)
● Dinasti Keita (1235 –1670 M)
● Kerajaan Songhai (1340–1591 M)
● Kerajaan Bornu (1396-1893 M)
● Kerajaan Baguirmi (1522-1897 M)
● Kerajaan Dendi (1591–1901 M)
● Kesultanan Damagaram (1731–1851 M)
● Kerajaan Fouta Tooro (1776–1861 M)
● Kekhalifahan Sokoto (1804–1903 M)
● Kerajaan Toucouleur (1836–1890 M)
● Dinasti Za di Gao (11 M –1275 M)
● Dinasti Sayfawa (1075-1846 M)
● Kekaisaran Mali (1230-1600 M)
● Dinasti Keita (1235 –1670 M)
● Kerajaan Songhai (1340–1591 M)
● Kerajaan Bornu (1396-1893 M)
● Kerajaan Baguirmi (1522-1897 M)
● Kerajaan Dendi (1591–1901 M)
● Kesultanan Damagaram (1731–1851 M)
● Kerajaan Fouta Tooro (1776–1861 M)
● Kekhalifahan Sokoto (1804–1903 M)
● Kerajaan Toucouleur (1836–1890 M)
Kekaisaran Ghana
Salah satu kerajaan pertama yang bisa
menerima Islam di Afrika Barat adalah Kekaisaran Ghana (830-1235 M). Kerajaan
itu berada Mauritania dan Mali bagian barat. Menurut Prof A Rahman I Doi,
keberadaan Kekaisaran Ghana sempat ditulis oleh geografer Muslim bernama
al-Bakri dalam kitab Fi Masalik wal Mamalik.
Menurut al-Bakri, pada 1068 M Kerajaan Ghana
telah mencapai kemajuan. Secara ekonomi, negara itu begitu kaya dan makmur.
Raja Kekaisaran Ghana sudah mempekerjakan Muslim sebagai penerjemah. Tak hanya
itu, sebagian besar menteri dan bendahara negara adalah umat Islam. Al-Bakri pun
melukiskan perkembangan Islam di Kekaisaran Ghana pada abad ke-11 M dengan
seuntai kata. “Kota Ghana memiliki dua kota yang terletak pada sebuah dataran,
salah satunya dihuni umat Islam dalam jumlah yang banyak. Komunitas ini
memiliki 12 masjid yang biasa digunakan untuk shalat Jumat. Setiap masjid
memiliki imam, muazin, serta para pembaca Alquran. Kota Muslim itu banyak
memiliki ahli hukum, pengacara, dan orang-orang pintar”.
Dinasti Za
Dinasti Za berbasis di Kota Kukiya dan Gao
di Sungai Niger River—sekarang dikenal sebagai Mali modern. Dinasti itu
didirikan Za Alayaman pada abad ke-11 M. Pendiri raja itu berasal dari Yamen
dan menetap di Kota Kukiya. Dinasti itu berubah menjadi kerajaan Islam setelah
pada 1009-1010 M, Za Kusoy penguasa ke-15 memeluk Islam. Kerajaan itu
ditaklukkan Kekaisaran Mali pada awal abad ke-13 M.
Kekaisaran
Mali
Menurut sejarawan Margari Hill dari Stanford
University, Kerajaan Mali didirikan oleh Raja Sunjiata Keita. Ia bukanlah
seorang Muslim. Raja Mali pertama yang masuk Islam adalah Mansa Musa
(1307-1332). “Ia menjadikan Islam sebagai agama resmi kerajaan,” ujar Hill. Di era
kepemimpinan Mansa Musa, Kekaisaran Mali mengalami masa keemasan. Pada 1325 M,
Timbuktu mulai dikuasai Kaisar Mali, Mansa Mussa (1307-1332). Raja Mali yang
terkenal dengan sebutan Kan Kan Mussa itu begitu terkesan dengan warisan Islam
di Timbuktu.
Sepulang menunaikan haji di Makkah, Sultan
Musa membawa seorang arsitek terkemuka asal Mesir bernama Abu Es Haq Es Saheli.
Sang sultan menggaji arsitek itu dengan 200 kilogram emas untuk membangun
Masjid Jingaray Ber, yakni masjid untuk shalat Jumat. Sultan Musa juga
membangun istana kerajaannya atau Madugu di Timbuktu.
Pada masa kekuasaannya, Musa juga membangun masjid di Djenne dan masjidagung di Gao (1324-1325) M. Kini tinggal tersisa fondasinya saja.
Pada masa kekuasaannya, Musa juga membangun masjid di Djenne dan masjidagung di Gao (1324-1325) M. Kini tinggal tersisa fondasinya saja.
Kerajaan Mali mulai
dikenal di seluruh dunia ketika Sultan Musa menunaikan ibadah haji di Tanah
Suci, Makkah pada 1325 M. Sebagai penguasa yang besar, dia membawa 60 ribu
pegawai dalam perjalanan menuju Makkah. Hebatnya,
setiap pegawai membawa tiga kilogram emas. Itu berarti dia membawa 180 ribu
kilogram emas. Saat Sultan Musa dan rombongannya singgah di Mesir, mata uang di
Negeri Piramida itu langsung anjlok.
Pesiar yang dilakukan
sultan itu membuat Mali dan Timbuktu mulai masuk dalam peta pada abad ke-14 M.
Kesuksesan yang dicapai Timbuktu membuat seorang kerabat Sultan Musa, Abu Bakar
II, menjelajah samudra dengan menggunakan kapal. Abu
Bakar dan tim ekspedisi maritim yang dipimpinnya meninggalkan Senegal untuk
berlayar ke Lautan Atlantik. Pangeran Kerajaan Mali itu kemungkinan yang
menemukan benua Amerika. Hal itu dibuktikan dengan keberadaan bahasa, tradisi,
dan adat Mandika di Brasil.
Kekaisaran Songhay
Islam mulai menyebar ke wilayah Kekaisaran
Songhay pada abad ke-11 M. Menurut Prof Rahman, negara Songhay amat kaya karena
pengaruh perdagangan dengan Gao. Pada abad ke-13, kerajaan itu sempat dikuasai
Kekaisaran Mali. Namun, pada akhir abad ke-14 bisa melepaskan diri ketika dipimpin
oleh Sunni Ali. Di bawah kepemimpinan Raja Sunni Ali, pada periode 1464-1492
wilayah barat Sudan pun sempat dikuasai Kekaisaran Songhay. Kota Timbuktu dan
Jenne yang dikenal sebagai pusat peradaban Islam juga dikuasai Sunni Ali pada
1471-1476.
Sunni Ali adalah seorang Muslim. Namun, ia
tetap mempraktikkan tradisi lokal dan magis. Ia kerap menghukum ulama dan
cendekiawan Muslim yang mengkritisinya karena mempraktikkan kepercayaan pagan.
Umat Islam dan ulama Muslim di Timbuktu bergembira setalah Sunni Ali meninggal.
Dinasti Asykiya
Posisinya diganti oleh Sunni Barou. Askia
Muhammad Toure (Towri), seorang jenderal Songhay, meminta Barou untuk mengucap
sumpah dengan cara Islam sebelum memimpin kerajaan, namun menolaknya. Muhammad
Toure menggulingkannya dan mendirikan Dinasti Askiya.
Pada masa kepemimpian Muhammad Toure, Islam
kembali berjaya. Ia menerapkan hukum Islam, juga melatih dan mengangkat
hakim-hakim baru. Muhammad Toure melindungi dan membiayai para ilmuwan, ulama,
dan cendekiawan Muslim. Mereka yang berprestasi dalam bidang intelektual dan
agama diberi hadiah yang melimpah.
Sultan Muhammad Toure pun sangat dekat
dengan ulama dan cendekiawan terkemuka Muhammad al-Maghilli. Sang sultan juga
mendukung pengembangan Universitas Sankore—universitas Islam pertama di Afrika
Barat.
Sama seperti Mansa Musa—Sultan Mali, Askia
Muhammad juga sempat menunaikan ibadah haji ke Makkah. Ia dikenal memiliki
kedekatan dengan ulama dan penguasa di negara-negara Arab. Di Makkah, ia
disambut penguasa Arab. Ia juga mendapat hadiah pedang dan gelar Khalifah Sudan
Barat. Sekembalinya dari Makkah pada 1497, ia menggunakan gelar al-Hajj pada
namanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar