1. Kelemahan
kerajaan Majapahit sesudah Hayam Wuruk menjadikan goyahnya terhadap agama Hindu
dan Budha serta kepercayaan lama yang lain. Goncangnya keyakinan terhadap agama
yang lama itulah yang menyebabkan penduduk Indonesia mudah menerima agama yang
baru, yakni agama Islam.
2. Islam
memberi perasaan
harga diri sesama manusia, orang yang berkedudukan rendah merasa sederajat
dengan orang yang berpangkat sebagai anggota masyarakat Islam maka penduduk
dengan mudah menerima Islam. Ingat hal ini berlawanan dengan idiologi Hindu
dengan sistim kastanya. Oleh karena itu proses pengislaman di Indonesia dan
bawah ke atas (dari rakyat ke raja).Setelah penduduk memeluk agama Islam, baru
dengan pertimbangan politik raja memeluk agama Islam juga agar mendapatkan
dukungan dari tentara dan penduduk. (Ingat dalam masalah ini Guru Agama
mempunyai peranan yang sangat penting).
3. Dalam
menyampaikan ajarannya Guru Agama pandai menyesuaikan diri dengan penduduk
setempat, baik penyesuaian materi ajarannya yang diberikan maupun
tingkah-lakunya. Sehingga
penduduk mudah menerimanya.
Pengislaman penduduk daerah pantai
dan pedagang maju pesat. Setelah dunia perdagangan di
Indonesia dikuasai oleb orang Islam, barulah para pedagang dan pembesar-pembesar
pelabuhan Tuban dan Gresik (milik Majapahit) mau masuk Islam, karena mereka
takut kehilangan mata pencaharian. Pengislaman semacam itu tidak hanya terjadi
di daerah tersebut, melainkan juga dilakukan di daerah-daerah lain di kepulauan
Indonesia. Juga menjangkau daerah-daerah pedalaman yang penduduknya terdiri
dari petani. Sehingga makin hari makin bertambah banyak jumlah umat Islam
Indonesia. Sampai pada waktunya kaum Muslimin mempunyai tempat yang terhormat
dan memiliki kekuatan yang menentukan. Kemudian berdirilah kerajaan-kerajaan
Islam di Indonesia, seperti kerajaan Pasai, Demak, Banten, Cirebon Banjar,
Maluku dan lain-lain. Kesemuanya itu berkat perjuangan guru-guru agama
bersama-sama rakyat yang dijiwai semangat tauhid yang tinggi dan suci. Maka
hasilnya tidak akan tergoyahkan sampai sekarang dan seterusnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar