Menurut Ajid Thohir, sejarah
perkembangan Islam di Amerika dewasa ini terus mengalami peningkatan dengan
adanya tiga faktor. Pertama, arus datangnya kaum imigran muslim
semakin bertambah, dan keturunan mereka juga bertambah. Kedua, konversi
agama di kalangan penduduk Amerika berkulit hitam.Ketiga, konversi agama
di kalangan kulit putih.
Di tahun 1997, Amerika Serikat
mengalami persoalan sosial yang serius. Ahmed Husosen Deedat mengatakan,
persoalan yang dihadapi oleh Amerika Serikat adalah para gay, pemabuk,
surplus kaum wanita, pemerkosaan dan pembunuhan. Tidak ada orang Amerika yang
dapat menjadi Walikota di New York, Los Angles atau San Fransisco tanpa dukungan
kaum gay di kota-kota tersebut. Amerika juga memiliki 11 juta pemabuk (problem
drinkers) ditambah lagi 40 juta peminum berat. Lalu kemudian orang-orang
Amerika mencari jalan keluar dari persoalan-persoalan tersebut, di antaranya
dengan terbentuknya sekte-sekte keagamaan, seperti Sun Meong Mouse (pemuda
Korea yang mengaku menjadi Kristus kedua), Father Devine (seorang Negro Amerika
yang mengaku dirinya Tuhan), Riv Jim Jones (yang mempraktekkan cara memuja
dengan bunuh diri), Klu Kluks Klan (gerakan Here Krishna, kelompok pemuja
setan). Kemudian Ahmed Deedat menjelaskan bahwa Islam dapat memberikan jalan
keluar kepada orang-orang Amerika, akan tetapi siapa yang cocok melakukan
Islamisasi di Amerika adalah Afro-Amerika karena tekanan yang mereka alami
selama lebih kurang tiga abad, telah menjadikan mereka sebagai komunitas muslim
paling militan di dunia. Allah telah memilih the black man untuk tugas mulia
ini, yakni mengubah masyarakat Barat.
Di samping dakwah yang dilakukan
oleh masyarakat muslim Afro-Amerika, usaha lain yang dilakukan oleh masyarakat
muslim yang diperkenalkan Islam di California adalah mendirikan perpustakaan
dengan nama Muslim Public Library. Perpustakaan ini dimaksudkan untuk studi
keagamaan, penyesuaian kebudayaan Amerika bagi keluarga muslim, dan
memperkenalkan non-muslim pada Islam yang sering digambarkan sebagai agama
teroris karena seringnya terjadi distorsi, itulah terjadi pembakaran mesjid di
Yuba City sebelah utara California, dan mesjid di New York sekitar tahun 1994.
Di samping itu, di Washington
sendiri terdapat Islamic Centre, pusat kegiatan Islam yang selama ini menjadi
pusat pedoman penting untuk berbagai persoalan penting bagi masyarakat muslim
Amerika Serikat, seperti penentuan awal Ramadhan, jatuhnya Idul Fitri, dan
jadwal shalat sehari-hari.
Kaum muslim yang tinggal di Amerika
Serikat saat ini mewakili banyak pergerakan besar dan identitas dari kalangan
imigran dan pribumi, Sunni dan Syiah, konservatif dan liberal. Muslim Arab kini
terus mengisi proporsi dalam jumlah besar dari komunitas Islam di Amerika
Serikat. Banyak dari mereka yang berpendidikan tinggi dan para profesional yang
sukses berperan sebagai pemimpin dalam pengembangan Islam Amerika yang lintas
kebangsaan dan lintas etnis. Belum ditemukan data akurat tentang jumlah Muslim
Amerika Serikat. Namun, ada yang memperkirakan jumlah Muslim di Amerika Serikat
saat ini telah mencapai 6 juta jiwa. Sarana peribadatan berupa mesjid di Amerika Serikat terdapat pada hampir seluruh,
kalau tidak semua negara bagian di Amerika Serikat. Jumlah mesjid menurut data
yang diperoleh sebanyak 1.209 buah. Sekolah-sekolah Islam terdapat di Ohio
dengan nama Sekolah Islam Oasis, di New Jersey terdapat SD Muslim al-Gazali.
Dibalik perkembangan Islam di
Amerika serikat, para penentu kebijakan Amerika, tampaknya ragu-ragu dalam
mengambil posisi yang pasti terhadap kebangkitan Islam di Amerika Serikat
dewasa ini. Keraguan tersebut berakar dari ketidakmampuan Washington dalam
memprediksi dan mengukur dampak-dampak kebijakan luar negeri pada negara-negara
Islam pada saat mereka memegang kekuasaan. Oleh karena itu, setidaknya ada tiga
hal yang mendasari posisi Amerika terhadap Islam politik.
Pertama, Amerika tidak ingin terlihat
tidak bersahabat bagi negara-negara Islam, karena hal tersebut dikhawatirkan
akan memperparah sikap mereka terhadap Amerika. Para pejabat pemerintah Amerika
tidak mau mengulangi kesalahan yang dibuat saat menghadapi revolusi Islam di
Iran.
Kedua, keraguan secara terbuka
mendukung kelompok Islam manapun yang kepentingan regional dan sekutunya.
Ketiga, para pembuat kebijakan luar negeri Amerika terdapat sebentuk
ketidakyakinan tentang kemungkinan terjadinya hubungan antara negara Islam dan
demokrasi. Kebijakan luar negeri Amerika Serikat sering dibicarakan dalam
lingkup ketegangan dialektika antara dua pola yang berlawanan
Ketiga, para pembuat kebijakan luar negeri
Amerika terdapat sebentuk ketidakyakinan tentang kemungkinan terjadinya hubungan
antara negara Islam dan demokrasi.
Terlepas dari objektivitas petinggi
Amerika Serikat, yang jelasnya bahwa mereka mempunyai kepentingan besar yaitu,
menjaga status quo budaya Barat yang telah menguasai dunia dengan membuat opini
publik bahwa kebudayaan yang paling unggul adalah kebudayaan Barat di Amerika.
Kaitannya dengan ini, pada era 90-an, Huntingtong melontarkan pernyataan
tentang akan terjadi benturan antar peradaban. Pernyataan ini menjadi topik
pembicaraan yang hangat, karena hipotesis tersebut dilontarkan pada saat Perang
Dingin telah berlalu, dengan runtuhnya kolonialisme-sosialisme yang menjelma
dalam bentuk negara Uni Soviet dan negara-negara sekutunya di Eropa Timur.
Saat ini yang tinggal adalah
kekuatan raksasa tunggal, yaitu Amerika Serikat dan sekutunya. Terpecah
belahnya Uni Soviet menjadi sebuah republik yang merdeka disambut dengan
antusias dan sekaligus kekhawatiran. Antusias karena bubarnya Uni Soviet
sebagai lambang runtuhnya ideologi komunisme dan kemenangan ideologi kapitalisme
atau liberalisme Barat. Kekhawatiran pertama adalah soal keamanan, senjata
nuklir yang semula hanya dimiliki satu negara (Soviet) kini menyebar menjadi
milik beberapa negara (khususnya Rusia, Ukraina, Irak dan lain-lain),
menyebabkan sulit untuk mengontrolnya. Kedua, faktor ideologis yaitu memberikan
peluang bagi kebangkitan Islam di republik-republik (bekas Soviet) berpenduduk
mayoritas muslim, terutama di Asia Tengah dan Azerbaijan.
Hipotesis Huntingtong tersebut,
tidak memiliki alasan yang jelas, kecuali alasan ekonomi dan perdagangan, orang
tidak melihat alasan kultural yang signifikan. Amerika Serikat berusaha memberi
citra tentang Islam sebagai suatu ancaman dan mencoba menggambarkan Islam
sesuai dengan perspektif budaya dan peradaban Barat. Pencitraan Islam oleh
media massa Barat bahwa Islam adalah agama yang mengancam, menakutkan, teror,
ekstrim dan kata-kata lain semacamnya.
Amerika Serikat tampil sebagai
satu-satunya negara adikuasa. Struktur politik internasional berpola ‘anarki
piramida’ menggantikan pola “bipolar”. Dalam pola baru ini Amerika tetap
bermukim di puncak piramida dunia lewat kepemimpinan politik, ekonomi, dan
tekhnologi militernya. Di bawahnya bertengger multipolonisme Eropa yang
beranggotakan Inggris, Perancis, Jerman dan Rusia.
Presiden George. W Bush, sebagai
pendukung partisan Israil, pada akhir Agustus 2001, sebelas hari sebelum
meletusnya serangan terhadap gedung World Trade Centre (WTC) dan Pentagon pada
11 September 2001, Amerika dan sekutu-sekutunya telah memainkan manuver yang
sangat menjengkelkan umat Islam dan dunia Arab dengan memboikot konfrensi
tentang rasisme di Durbai Afrika Selatan, karena sejumlah kalangan mengusulkan
resolusi yang menyamakan zionisme dengan rasialisme.
Demikian juga para politisi Amerika
Serikat dengan mudah mengunakan sentimen ‘anti Islam” yang sudah berurat
berakar pada masyarakat Kristen Barat. Direktur CIA, George Tenet mengumumkan
bahwa musuh utama Amerika adalah teroris besar Osama bin Laden. Pernyataan ini
memperkeruh hubungan Barat dan Islam. Apalagi dengan Hancur leburnya menara
kembar World Trade Centre (WTC) di New York Amerika pada Selasa, 11
September 2001, merupakan tragedi dan atau peristiwa terdahsyat dunia di awal
abad ke 21. Osama bin Laden dan jaringan al-Qaedahnya yang tertuduh sebagai
pelaku utama atas kehancuran WTC, kelihatannya membawa dampak yang sangat buruk
terhadap dunia Islam. Dikatakan demikian, karena Presiden Amerika George Bush,
secara tiba-tiba mengeluarkan statemen “miring” bahwa “Islam adalah Teroris”.
Dalam hal ini, G. Bush mengumumkan kepada dunia bahwa:
Amerika diserang teroris biadab.
Teroris itu adalah Osama bin Laden. Teroris itu adalah Islam. Amerika tidak
akan tinggal Diam. Amerika akan membalas. Amerika tidak akan kalah. Amerika
sudah terbiasa berperang …. Ikut Amerika atau ikut teroris. Tidak ada pilihan
ketiga, apalagi pilihan keempat. Siapa yang tidak mau ikut Amerika akan
digebuk. Rezim yang tidak mau memusuhi terorisme akan dicap sebagai rezim
jahat.
Dua poin penting yang perlu
digarisbawahi dari statemen G. Bush tersebut, yakni ; “Teroris itu adalah
Islam” dan “Amerika akan membalas”. Menurut penulis, statemen poin pertama,
belum ada bukti yang akurat. Sedangkan statemen point kedua, buktinya sudah
sangat banyak.
Menurut Ulil Abshar Abdallah bahwa
kekerasan dan diskriminasi yang menimpa umat Islam, terutama yang ada di
Amerika semenjak peristiwa WTC telah mencapai 1717 kasus, dan kasus yang
terbanyak (372 kasus) adalah pelecehan se k sual terhadap para muslimah yang
berjilbab di Amerika. Jilbab adalah salah satu identitas Islam, dan karena itu
mereka menganggap bahwa setiap wanita berjilbab berpotensi memiliki hubungan
yang erat dengan terorisme.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar